Doran Souvenir – Perayaan Imlek bukan hanya identik dengan warna merah, angpao, dan makan besar bersama keluarga, tetapi juga sarat dengan tradisi simbolis yang diwariskan turun-temurun. Salah satu tradisi yang masih dijalankan oleh banyak komunitas Tionghoa di Indonesia, Singapura, dan Malaysia adalah tradisi makan sayur 7 macam Imlek yang dimakan pada hari ketujuh setelah Tahun Baru.
Tradisi ini tidak sekadar soal makanan, melainkan berkaitan erat dengan kepercayaan kuno tentang penciptaan manusia, harapan akan keberuntungan, serta upaya menjaga keseimbangan tubuh setelah berhari-hari mengonsumsi hidangan berbahan daging dan hasil laut.
Apa Itu Tradisi Makan Sayur 7 Macam Imlek?

Tradisi makan sayur tujuh macam dalam perayaan Imlek berakar dari Ren Ri atau Hari Manusia yang jatuh pada hari ketujuh penanggalan lunar. Dalam kepercayaan Tionghoa, hari ini dianggap sebagai ulang tahun seluruh umat manusia karena manusia diyakini diciptakan pada hari ketujuh oleh Nüwa.
Karena maknanya yang sakral, masyarakat Tionghoa secara turun-temurun menghindari pembunuhan makhluk hidup pada hari tersebut dan memilih menyantap hidangan berbahan dasar sayuran. Dari kebiasaan inilah muncul tradisi mengonsumsi tujuh jenis sayur yang dipercaya membawa harapan akan kesehatan, keberuntungan, dan kehidupan yang lebih seimbang di tahun baru.
Seiring waktu, tradisi ini berkembang dan menyebar bersama diaspora Tionghoa ke berbagai wilayah termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, tradisi makan sayur tujuh rupa banyak dijumpai dalam komunitas Hakka dan dikenal sebagai qī yàng cài atau chit nyong chai.
Angka tujuh dipilih bukan tanpa alasan karena melambangkan doa dan harapan hidup seperti kesehatan, ketekunan, kecerdasan, serta kemakmuran. Dominasi warna hijau pada sayuran juga mencerminkan datangnya musim semi yang identik dengan awal baru, pertumbuhan, dan proses memulihkan tubuh setelah rangkaian perayaan Imlek.
Baca juga: Mengenal Sincia: Tradisi Pergantian Tahun Baru Tionghoa yang Penuh Makna
7 Sayur yang Digunakan

Setelah memahami makna dan filosofi di balik tradisi makan sayur tujuh macam saat Imlek, pembahasan berikutnya tentu mengarah pada isi hidangan itu sendiri. Setiap sayuran yang dipilih bukan sekadar pelengkap, melainkan memiliki simbol dan harapan tersendiri yang dipercaya membawa kebaikan sepanjang tahun. Inilah tujuh jenis sayur yang umum digunakan beserta makna di baliknya.
1. Daun Bawang Cina (蒜菜 / 大蒜)
Daftar sayuran yang paling sering muncul dalam tradisi ini, salah satunya daun bawang Cina atau suàn cài. Sayuran ini memiliki permainan bunyi dengan kata 算 (suan) yang berarti menghitung, sehingga melambangkan kecermatan dalam perencanaan keuangan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan hidup.
Dalam tradisi makan sayur tujuh macam saat Imlek, daun bawang Cina dipercaya membawa berkah kecukupan finansial, bukan sekadar soal memiliki banyak rezeki, tetapi juga kemampuan mengelolanya dengan baik sepanjang tahun baru.
2. Daun Bawang (葱 / 蔥)
Setelah daun bawang Cina, sayuran berikutnya yang hampir selalu hadir adalah daun bawang yang pelafalannya mirip dengan kata 聪明 (cong ming) yang berarti pintar atau cerdas. Karena kesamaan bunyi tersebut, daun bawang melambangkan kecerdasan, kejernihan berpikir, dan kemudahan dalam menyerap ilmu.
Dalam tradisi Ren Ri, penyajian daun bawang sering dimaknai sebagai doa agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, mudah belajar, dan meraih keberhasilan baik dalam pendidikan maupun karier.
3. Seledri (芹菜)
Sayuran ketiga yang hampir selalu disebut adalah seledri atau qín cài yang pelafalan 芹 (qin) mirip dengan 勤 yang berarti rajin, tekun, dan ulet. Karena itu, seledri melambangkan etos kerja yang kuat serta kegigihan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Makna ini sejalan dengan filosofi Imlek yang menekankan bahwa keberuntungan tidak hanya datang dari doa, tetapi juga dari kerja keras yang dilakukan secara konsisten sepanjang tahun.
4. Kucai (韭菜)
Kucai atau jiǔ cài memiliki makna yang sangat kuat dalam tradisi ini karena bunyi 韭 (jiu) sering diasosiasikan dengan 长长久久 (chang chang jiu jiu) yang berarti panjang umur, keabadian, dan kelanggengan.
Oleh karena itu, kucai melambangkan harapan akan hubungan yang langgeng, kesehatan jangka panjang, serta keberlanjutan rezeki. Tidak mengherankan jika sayuran ini juga kerap hadir dalam berbagai hidangan Imlek lainnya, bukan hanya dalam tradisi makan sayur tujuh macam.
5. Sawi Hijau atau Mustard Greens (芥菜)
Sawi hijau atau jiè cài memiliki beragam tafsir makna tergantung daerah dan dialek yang digunakan. Dalam beberapa versi, sayuran ini dikaitkan dengan strategi, kecerdikan, serta kemampuan berpikir jauh ke depan.
Sementara tafsir lain memaknainya sebagai simbol kemakmuran dan keberanian menghadapi tantangan hidup. Rasa pahit pada sawi justru menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak selalu manis, tetapi dengan ketekunan dan perencanaan yang baik, kepahitan dapat diolah menjadi keberhasilan.
6. Selada (生菜)
7. Kailan (芥蘭)
Sayuran terakhir yang sering muncul adalah kailan atau jiè lán yang melambangkan persatuan, keharmonisan, dan kekompakan keluarga. Dalam konteks perayaan Imlek yang menekankan nilai kebersamaan, makna ini menjadi sangat penting. Dengan menyantap kailan bersama keluarga pada hari Ren Ri, diharapkan hubungan antaranggota keluarga tetap solid, rukun, dan saling mendukung sepanjang tahun.
Baca juga: 5 Perbedaan Sincia dan Imlek: Serupa tapi Tak Sama dalam Tradisi Tionghoa
Cara Penyajian dan Pantangan Tradisi Sayur 7 Macam

Setelah mengetahui jenis sayurnya, cara penyajian dalam tradisi makan sayur 7 macam di Imlek ini juga memiliki aturan tersendiri. Tujuh sayuran dimasak bersama tanpa tambahan daging atau seafood sebagai bentuk penghormatan terhadap hari Ren Ri.
Bumbu yang digunakan cenderung sederhana agar rasa alami sayur tetap menonjol dan sayuran berbatang kosong biasanya dihindari. Selain itu, terdapat kepercayaan bahwa hidangan tidak boleh tersisa atau terjatuh saat dimakan karena hal tersebut dianggap sebagai lambang rezeki dan keberuntungan yang terbuang.
Menariknya, tradisi serupa juga ditemukan di negara lain dengan bentuk yang berbeda. Di Jepang, masyarakat mengenal Nanakusa yaitu bubur berisi tujuh jenis tanaman herbal yang disantap setiap tanggal 7 Januari.
Sementara itu di Singapura dan Malaysia, perayaan Ren Ri sering diramaikan dengan menyantap yu sheng atau salad tujuh warna sebagai simbol kemakmuran yang terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa nilai perayaan Ren Ri tetap hidup meski menyesuaikan dengan budaya dan kebiasaan lokal masing-masing wilayah.
Baca juga: 7 Minuman Khas Imlek yang Wajib Ada di Meja, Dipercaya Bawa Hoki
Penutup
Pada akhirnya, tradisi makan sayur tujuh macam saat Imlek bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi mengandung makna mendalam tentang harapan hidup dan keberkahan di tahun yang baru. Mulai dari filosofi Ren Ri hingga simbol di balik setiap sayuran, semuanya mengajarkan bahwa keberuntungan lahir dari doa, usaha, serta kebersamaan keluarga yang terus dijaga.
Apabila Anda ingin menghadirkan makna Imlek yang lebih berkesan, hampers Imlek dapat menjadi pilihan yang tepat. Doran Souvenir menyediakan beragam pilihan hampers Imlek yang cocok untuk keluarga, relasi, maupun rekan bisnis. Anda juga dapat melakukan custom isi hampers sesuai kebutuhan dan konsep yang diinginkan. Untuk pemesanan atau konsultasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi admin Doran Souvenir melalui WhatsApp.
