Doran Souvenir – Pernikahan bukan hanya prosesi sakral untuk mengikat janji suci antara dua mempelai. Namun, juga menunjukkan kekayaan budaya yang diwariskan melalui setiap rangkaian acara maupun perayaannya. Salah satu adat pernikahan yang mulai langka di Indonesia tapi masih berupaya dilestarikan, yaitu tradisi Cio Tao.
Di sisi lain, Cio Tai sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2023 dari Kota Tangerang, lho. Lantas seperti apa tradisi Cio Tao di Indonesia? Bagi Anda yang masih penasaran dengan tradisi pernikahan ala Cina Benteng tersebut, mari simak ulasan berikut!Â
Apa Itu Cio Tao?

Tradisi Cio Tao merupakan adat pernikahan yang menggabungkan akulturasi budaya Tionghoa dengan adaptasi lokal, terutama Betawi dan Sunda. Tradisi ini dilakukan oleh komunitas Tionghoa yang disebut dengan Cina Benteng. Sesuai dengan namanya, mereka merupakan keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah sekitar benteng pertahanan peninggalan VOC, khususnya di Pasar Lama Tangerang.
Selain memiliki unsur akulturasi budaya, Cio Tao adalah upacara yang dilakukan mempelai untuk memohon restu dan perlindungan kepada dewa-dewi serta leluhur mereka. Ritual ini digelar dengan harapan akan kehidupan pernikahan yang bahagia dan penuh berkah. Para mempelai biasanya akan sembahyang di depan altar keluarga atau tempat ibadah khusus dengan berbagai sesaji yang sudah dipersiapkan.
Yuk Lihat Katalog Produk dan Dapatkan Penawaran Menarik di DORAN SOUVENIR
Yuk Lihat Katalog Produk dan Dapatkan Penawaran Menarik di DORAN SOUVENIR
Sejarah Cio Tao
Awalnya Cio Tao adalah ritual pernikahan berdasarkan keyakinan Konghucu, tapi kini lebih difokuskan pada upacara formal. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh banyaknya warga Cina Benteng yang beralih keyakinan menjadi penganut agama Buddha. Tradisi ini sebenarnya berakar dari daerah Hokkian Selatan, yang menjadi tempat asal leluhur Cina peranakan di Jawa. Kemudian, pada abad ke-17 leluhur mereka tiba di Batavia.
Konon, leluhur mereka yang berdarah Tionghoa tersebut menikahi gadis asli Indonesia. Peristiwa ini menandai awal mula akulturasi budaya yang hidup di tengah keturunan mereka, termasuk tradisi Cio Tao di kalangan Cina Benteng. Tradisi ini menjadi salah satu warisan budaya yang dibanggakan etnis Tionghoa di Tangerang yang kini masih berusaha dilestarikan.
Baca juga: Beda Seserahan Lamaran, Pernikahan, dan Hantaran
Rangkaian Tradisi Cio Tao

Layaknya prosesi pernikahan pada umumnya, upacara Cio Tao juga memiliki rangkaian tahapan yang harus dilakukan oleh para mempelai. Mulai dari pinang jodoh, penyerahan maskawin, perjanjian perkawinan, upacara sembahyang, hingga pesta pernikahan. Di antara semua rangkaian tersebut, keunikan yang paling kentara terletak pada upacara sembahyang dan pesta pernikahan.
Pada tradisi pinang jodoh, perwakilan dari keluarga calon mempelai pria akan mengajukan lamaran kepada keluarga calon mempelai wanita. Jika lamaran diterima, maka keluarga calon pengantin pria akan memberikan maskawin atau mahar yang umumnya berupa uang, perhiasan, serta barang-barang lainnya.
Setelah itu, kedua belah pihak melanjutkan dengan perjanjian perkawinan, yakni kesepakatan mengenai hak dan kewajiban pasangan. Kemudian, kedua mempelai sembahyang kepada Tuhan, leluhur, dan memohon doa restu serta keberkahan dari orang tua. Selanjutnya, mereka menggelar pesta pernikahan dengan dihadiri keluarga dan kerabat, yang biasanya akan berlangsung selama beberapa hari.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Cucuk Lampah yang Ada di Tradisi Pernikahan Jawa?
Akulturasi Budaya dalam Cio Tao

Akulturasi budaya dalam Cio Tao dapat terlihat dalam busana yang dikenakan pengantin, unsur musik, serta tarian saat perayaannya. Misalnya saja penampilan mempelai perempuan yang mengenakan penutup wajah mirip seperti pelengkap pakaian adat Betawi ketika menikah. Selain itu, musik dan tarian saat upacara berlangsung pun dipengaruhi oleh tiga budaya, yakni Tionghoa, Betawi, dan Sunda sehingga menciptakan harmoni yang khas dan penuh makna.
Cio Tao juga mencerminkan semangat toleransi antar umat beragama. Terbukti pada hidangan yang disajikan saat acara sakral berlangsung. Biasanya hidangan yang disajikan di atas meja akan berbeda untuk umat Islam dan untuk non muslim.
Mengapa Tradisi Cio Tao Langka?
Walau telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional, sayangnya tradisi Cio Tao semakin langka dan sudah jarang dilakukan. Salah satu alasannya, karena banyak pengantin yang memilih upacara pernikahan lebih sederhana dan praktis. Misalnya saja, pasangan pengantin memilih mengadakan upacara pemberkatan di vihara dan langsung melanjutkannya dengan resepsi.
Selain itu, pergeseran peran dan makna pun terjadi dalam Cio Tao. Seperti dijelaskan sebelumnya kalau Cio Tao berdasarkan keyakinan agama Konghucu. Namun, banyaknya warga Cina Benteng yang beralih keyakinan, maka perannya pun juga berubah. Kini, Cio Tao sebagai simbol dan warisan budaya masyarakat Cina Benteng yang sudah terlepas dari latar belakang agama.
Baca juga: 7 Pernikahan Adat Termahal di Indonesia yang Bernilai Ratusan Juta Rupiah
Penutup
Sekarang rasa penasaran Anda sudah terjawab, bukan? Tradisi Cio Tao menjadi bagian dari prosesi pernikahan warga Cina Benteng di Tangerang yang kini mulai langka. Keberadaannya menjadi kebanggaan tersendiri, oleh sebab itu mereka menjaganya supaya tetap lestari.
Jika Anda sedang merencanakan pesta pernikahan, tentu ingin menjadikannya sebagai momen berharga yang tidak terlupakan. Agar momen tersebut berkesan, Anda dapat memberikan souvenir pernikahan terbaik untuk para tamu undangan. Pastikan pula souvenir tersebut sesuai dengan konsep pilihan Anda.
Untuk mendapatkan lebih banyak pilihan, kunjungi website atau katalog kami dan temukan souvenir terbaik yang cocok dengan konsep pernikahan Anda. Selain itu, dapat menghubungi admin kami melalui WhatsApp yang siap membantu mewujudkan pernikahan yang Anda impikan.
